Selasa, 10 Juli 2018



Secara tidak sengaja, buku ini awalnya saya comot begitu saja saat tak sengaja melihatnya di sebuah rak buku di sebuah toko buku besar di pusat perbelanjaan tak jauh dari rumah. 

Pertimbangan saya saat itu hanya menilik lewat kover buku yang berwarna cerah dan blurb yang menyentak di bagian belakang buku. Dan setelah membacanya, saya langsung terhanyut dengan kisah yang dialami sang penulis-Mohamedou Ould Slahi- yang nyatanya sampai saat ini pun dirinya tak pernah menyangka dipaksa mendekam di dalam penjara terkejam di dunia-Guantanamo.

Tanpa berbuat kesalahan apapun, ia menjadi tertuduh anggota teroris oleh Amerika. Miris namun begitu banyak hikmah yang terkandung di buku ini.

Saat membacanya, hati saya ikut gelisah yang akhirnya saya tuangkan ke dalam sebuah tulisan dan Alhamdulillah dimuat di Koran Jakarta, 15 Nov 2016.
Berikut ulasannya.






Kesaksian dari Neraka Guantanamo



Judul Buku   : Guantanamo Diary
Penulis          : Mohamedou Ould Slahi
Penerbit         : Noura Books
Cetakan         : I, Maret 2016
Halaman        : 418 halaman
ISBN               : 978-602-385-065-5
Peresensi      : Eva Sholihah, pecinta baca tulis. Alumni SMK Patria Wisata, Jakarta.
             
            Hukum perang amatlah keras. Sebagian orang berusaha memanfaatkan ketiadaan hukum untuk melukai yang lain. Sementara sebagian lain berusaha mengurangi penderitaan seminimal mungkin. (Hal.87)
            Begitu juga upaya Amerika dalam memerangi terorisme. Sebagai negara adidaya yang memiliki pasukan militer terkuat di dunia, Amerika bertekad menumpas habis terorisme sampai ke akar-akarnya. Ini dilakukan terutama pasca serangan 9 November 2001. Pemerintah Amerika kerap berbicara tentang sebuah konspirasi besar melawan dirinya dan konfrontasi khusus pun dilakukan jika menyentuh ranah terorisme.
            Amerika dalam melawan terorisme mendirikan penjara khusus untuk para tahanan kasus terorisme. Dulu penjara ini merupakan pangkalan militer Angkatan Laut di Teluk Guantanamo, Kuba. Banyak warga muslim yang tidak pernah melakukan tindak kejahatan terorisme dipenjarakan tanpa melalui proses pengadilan.
            Salah satunya bernama Mohamedou Ould Slahi. Sebagai warga negara Mauritania, Mohamedou tidak pernah bermimpi menghabiskan belasan tahun hidupnya di sebuah penjara terkejam di dunia.
            Setelah menetap lama di Jerman dan sempat tinggal sejenak di Kanada, Mohamedou memutuskan pulang ke Mauritania. Saat itu Januari 2000, di tengah perjalanan pulang ke Mauritania, Mohamedou sempat ditahan dua kali, sebelum akhirnya dibebaskan pada 19 Februari 2000.
            Saat baru sejenak berkumpul bersama keluarga di tanah kelahirannya, Mohamedou kembali diinterogasi agen FBI selama dua minggu, lalu dibebaskan karena ketiadaan bukti. Namun pada 20 November 2001, dia dijemput kepolisian Mauritania untuk ditanyai lebih lanjut. Sejak itu Mohamedou tidak pernah menghirup udara bebas lagi, sampai kini.
            Mohamedou dikenakan tuduhan berkaitan rencana Plot Milenium (rencana pengeboman bandara Los Angeles di malam tahun baru 2000) serta saat serangan 9 September 2001 terjadi. Dia kembali dituduh sebagai perekrut anggota dalam serangan tersebut. Militer Amerika menuduhnya masih menjadi anggota aktif Al-Qaeda. Berdasarkan masa lalunya tahun 1991 dia sempat bergabung Al-Qaeda (pada saat itu Al-Qaeda masih menjadi sekutu Amerika) untuk melawan pemerintahan komunis di Afganistan.
Aktifitas Mohamedou yang sempat beberapa kali menelepon beberapa orang anggota Al-Qaeda, juga ikut meyakinkan tuduhan tersebut. Namun bukti yang menunjukkan Mohamedou terlibat, tidak pernah ditemukan. Bahkan tahun 2010, setelah meninjau lebih lanjut, seorang hakim federal Amerika, James Robertson, memutuskan agar dia segera dibebaskan. Sayang, pengajuan banding pemerintah Obama membuat putusan itu batal dan mengalami peninjauan ulang sampai saat ini.
            Buku setebal 418 halaman ini ditulis Mohamedou sendiri sepanjang musim panas tahun 2005 dari dalam penjara Guantanamo. Dia memerlukan waktu tujuh tahun agar bisa terbit dan telah melalui sensor ketat militer Amerika lewat 2500 coretan stabilo hitam.
            Para tahanan termasuk Mohamedou sering mengalami penyiksaan, bahkan pelecehan seksual. Dia pernah sesi interogasi tanpa henti selama 24 jam, pelarangan ibadah, sampai ditempatkan di sel isolasi tanpa sinar matahari. Penyiksaan di sana terlalu ekstrim sampai membuat Mohamedou merasa takkan pernah menjadi orang yang sama seperti sebelumnya. (Hal.286)
            Buku telah diterbitkan di 29 negara dan menjadi best seller. Buku sebagai dokumen penting pelanggaran HAM berat AS.

23 komentar

menarik. kalo ketemu bukunya, aku bakal beli juga. selalu tertarik dengan kisah2 nyata begini, apalagi ada sejarah kelam di belakangnya... Amerika..amerika.. kdg kupikir negara 1 ini kelewatan parnonya.. -_-

REPLY

Setelah baca sekilas , aku jadi penasaran sama bukunya. Aku seneng baca buku berdasarkan kisah nyata gitu, soalnya bisa Makin Tau bahwa dunia itu punta banyak pemikiran dan hal Hal yang terkadang belum Kita ketahui

REPLY

Badanku ngilu. Membayangkan hidup dari balik jeruji besi, apalagi dengan tuduhan kesalahan yang tidak pernah bisa dibuktikan. Rasanya keadilan cuma omong kosong belaka.

Tapi terharu, dia berani menuliskan kisahnya dari balik penjara ya. Tentunya butuh keberanian untuk menerbitkan sekaligus keberanian untuk mengungkapkan rasa sakit dari dalam hatinya juga.

REPLY

kapan hari nonton film rendition. udah nonton belum? itu juga tentang orang yg dipaksa mengaku sbg teroris.

bagus juga ini kalo dijadiin film. nambahi koleksi film penjara guantanamo.

REPLY

Sepertinya buku yang menarik untuk dibaca. Saya baru tahu teryata amerika itu pernah bersekutu dengan Al-Qaeda. Lalu menjadi musuh.

REPLY

Membaca resensi bukunya, ini sangat menarik ya, Mbak Eva. Apalagi ini kisah nyata yang ditulis langsung oleh orangnya yang sendiri mengalami kisah itu. Jadi pastinya sangat detail, dituangkan dengan perasaan penuh. Saya yakin, semua rasa dari penulis, tersampaikan baik ke pembaca. Jadi penasaran ingin membaca bukunya, Mbak.

REPLY

Ya Allah sedih sekaligus serem mba ceritanya. Memang pengadilan Tuhanlah yang jujur dan adil ya. Di dunia ini begitu banyak orang-orang jahat hingga orang baik pun bisa terlihat jahat atau begitu sebaliknya. Aku jadi penasaran sudah berapa tahun ya umur penulis buku ini

REPLY

Sayangnya, America terlalu digdaya, tak ada yang bisa membawa America ke ranah hukum pbb.

REPLY

Astaghfirullah.. Membayangkan dihukum di Guantanamo aja merinding ya mbak. Dan sedihnya atas tuduhan yang tidak dapat dibuktikan dengan jelas. Semoga PBB bisa lebih tegas lagi dalam menyikapi sikap sewenang2 Amerika terhadap HAM seperti ini.

REPLY

Terbayang ya, gimana rasanya hidup bertahun lamanya di dalam penjara. Apalagi kalau sampai sekian tahun kemudian nggak terbukti bahwa dia bersalah.

Tapi aku salut sama beliau. Berani menuliskan cerita tersebut dari balik jeruji besi. Tentunya butuh kekuatan mental mengungkapkan kebenaran tersebut, belum lagi ada kemungkinan dijegal lebih dulu oleh berbagai pihak sebelum naskahnya benar-benar bisa diterbitkan.

REPLY

Saya punya buku ini, udah lama banget, waktu masih ramai-ramainya penjaga guantanamo disiarkan di mana pun. Baca buku ini kulit rasanya teriris-iris dan tulang berasa mau patah

REPLY

Ironis memang, negara yg paling galak menggaungkan Hak Asasi Manusia, eh malah dia tuh yg memperlakukan narapidana seperti bukan manusia, ckck. Jelas, ini pelanggaran HAM berat AS

REPLY

saya juga pernah lihat buku tentang tentara muslim amerika yang juga dituduh tanpa bukti dan dijebloskan ke penjara, saya ga ingat guantanamo juga apa bukan.
tapi yahh begitulah, ndak enak hati membahasnya di sini. itu isu senitif.

REPLY

Ya Allah... aku benar2merinding membaca ini. Apalagi membaca bukunya. Pasti akan ngilu di seukuju rtubuh karena aku kalau mendengar orang bercerita tentang luka atau melihat luka, di tempat yang sama akan terasa sakitnya. Hiks.....
Semoga mereka yang tak bersalah segera bebas, ya Allah....

REPLY

Akutuh suka panas membaca atau menonton kasus kasus tersangka teroris.

REPLY

Mantap nih mbak... Resensinya dimuat di Koran Jakarta. Baca tentang kisah Mohamedou, ngeri ngeri sedap ya mbak....bisa kebawa mimpi habis baca buku ini. Makanya aku jarang banget baca buku tipe tipe begini...

REPLY

Wah keren ulasannya pernah masuk media ya mbak. Bukunya lumayan berat ya mbak tapi bagus buat pengetahuan ttg kisah2 perampasan HAM dan betapa kita gak bisa menutup mata ternyata kejadian itu ada di sekitar kita hiks

REPLY

Ya allah serem yac klo udah berada di dunia penjara. Segalanya terenggut, dan yang ada dunia rimba siapa yang kuat dia yang dapat bertahan.

REPLY

Saya save artikelnya ya mbak, kayaknya bagus banget nih buat bacaan pas liburan ini. Makasih atas reviewnya ya mbak.....

REPLY

Duh baca yang ruang penyiksaann bikin merinding aja nih.Mohamedeu baru tau aq tuh cerita ttg Mohamedeu .. Mks yaaa

REPLY

Resensi ini mengingatkanku pasa sosom Pramoedya. Seorang tahanan politik yang menulis selama mendekam di Pulau Buru

REPLY

Ceritanya miris ya ... kadang hukum itu terkesan tidak adil, saat ada orang yang memberikan bukti seolah-olah dialah yang tertuduh, padahal dia tidak melakuka apa2.

REPLY

Guantanamo memang terkenal banget kejamnya, sampai pernah ada film nya loh, tapi seperti biasa kalau film banyak yang ga sesuai cerita aslinya. Bukunya aku baca nih, jadi pengen baca juga.

REPLY

Ceritaku yang Bersambung . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates