Senin, 21 Januari 2019

Pixabay.com


Tepat 8 bulan lalu, anak kedua saya, Fad, genap berumur dua tahun dan sudah waktunya untuk disapih. Beberapa minggu sebelum Fad benar-benar lepas dari ASI, saya mulai memberinya susu formula yang mereknya sama dengan yang dulu dikonsumsi oleh kakaknya. Hanya setengah botol ukuran sedang, tujuannya agar Fad bisa mencicipi rasanya dan melatih Fad agar mulai terbiasa pada perbedaan rasa susu dengan rasa ASI yang biasa dikonsumsi sebelumnya.

Tapi tak disangka, Fad menolak untuk minum susu dari botol yang saya sodorkan. Ow.. ow.. dan drama peralihan dari ASI ke sufor pun dimulai. Saya tidak putus asa dan mencoba beralih dari memberikan susu pakai botol menjadi susu dalam gelas. Pada awalnya, Fad mau meminumnya sedikit. Ukuran susu di dalam gelas sedikit berkurang. Pikir saya masih lebih baik dibanding saat saya menyajikannya menggunakan botol yang sama sekali Fad tidak mau meminumnya.

Keesokan paginya, saya membuatkan Fad setengah gelas susu lagi. Dan lagi-lagi Fad tidak mau meminumnya. Kejadian ini terus berulang dan membuat proses menyapih Fad jadi terhambat. Nyatanya, Fad tetap tidak mau minum susu meski saya sudah menggantinya dengan beberapa merek susu yang berbeda. Saya pun memutuskan untuk tetap memberinya ASI sambil terus mencari susu yang cocok dan disukai Fad.

Sampai suatu hari, suami saya menyarankan untuk memberi susu UHT kepada Fad.

"Yang rasa full cream ya, Mah. Jangan yang coklat atau rasa lainnya." ucapnya saat itu.

"Hah.. susu UHT, Yah? Emang bisa, ya? Emang boleh, ya?" balas saya kaget.

Akhirnya suami pun bercerita bahwa ia mendapat saran dari sahabatnya agar memberi susu UHT untuk Fad. Menurut rekomendasi dokter anak langganan sahabatnya itu, susu UHT bagus dan aman untuk dikonsumsi anak umur 2 tahun ke atas. Karena itu pula, kedua anak sahabatnya itu selalu mengonsumsi susu UHT sejak umur 2 tahun.

Saya pun manggut-manggut dan mencoba berkompromi. Mulailah saya mencari referensi lain, misalnya dengan membaca beberapa artikel terpercaya juga bertanya sekalian curhat kepada beberapa teman yang ternyata anaknya juga mengonsumsi susu UHT karena rekomendasi dokter. Dari itu, saya mulai tahu kalau ternyata susu UHT itu bagus untuk dikonsumsi anak seusia Fad.

Alhamdulillah, saat disodorkan susu UHT Fad langsung suka dan mau meminumnya. Proses menyapih pun bisa berjalan tanpa harus drama berlama-lama.

Memang sih, ungkapan tak kenal maka tak sayang benar adanya. Waktu itu saya belum tahu banyak tentang kebaikan yang dikandung susu UHT. So, berikut sedikit info tentang susu UHT yang saya kutip dari berbagai sumber.

Susu UHT atau Ultra High Temperature terbuat dari susu sapi cair segar yang dipanaskan pada suhu tinggi kisaran 135-145 derajat celcius dalam waktu singkat selama 2-5 detik.

pixabay.com


Proses ini bertujuan untuk memusnahkan seluruh bakteri pada susu dan sekaligus mencegah agar kandungan gizi dalam susu tidak rusak sehingga terwujudlah susu yang rasa, aroma dan warnanya hampir sama dengan susu segar. Kemasan multi lapis pada susu UHT yang kedap udara membuat susu ini memiliki masa simpan yang lama (6-10 bulan) tanpa harus menggunakan pengawet di dalamnya.

Untuk Fad, saya berikan susu rasa full cream warna putih khusus anak-anak 2-12 tahun. Karena selain beberapa kebaikan di atas, susu UHT full cream ini juga dibuat tanpa gula tambahan. Jadi meski mengonsumsi susu ini setiap hari, anak akan terhindar dari obesitas dan diabetes.

Menurut riset dari beberapa sumber pula, susu cair lebih baik untuk dikonsumsi karena sifat alami yang dikandungnya membuat zat gizi pada susu cair lebih mudah dicerna oleh tubuh.

Tapi sayangnya tingkat konsumsi susu cair di Indonesia masih tergolong rendah loh, Mah. Karena menurut data Euromonitor 2007, produksi aneka susu di Indonesia mencapai 1,3 miliar kiloliter. Dari jumlah itu, 60% berbentuk bubuk, 35% susu kental manis dan 5%-nya berbentuk susu cair. Itu berarti bahwa masyarakat Indonesia lebih banyak mengonsumsi susu bubuk dan susu kental manis dibanding susu cair. Kondisinya berbanding terbalik dengan tingkat konsumsi susu cair yang tinggi pada masyarakat di beberapa negara lain seperti Belanda mencapai 100%, India 97,8% dan Amerika Serikat sebanyak 99,7%.

Hal ini terjadi kemungkinan dikarenakan kurangnya informasi dan pengenalan pada masyarakat bahwa produk susu UHT sangat baik digunakan sebagai susu lanjutan setelah mengonsumsi ASI selama 2 tahun. Termasuk saya yang dulunya juga tidak tahu mengenai hal ini.

Fad in action (dok:pribadi)


Namun terlepas dari semua itu, Mah, pada dasarnya semua susu memiliki kandungan zat gizi, vitamin dan mineral yang baik untuk tubuh terutama pada anak-anak demi menunjang masa-masa pertumbuhannya.'


Telah disunting dari berbagai sumber ; Nakita.ID, Kompas.com, Mommiesdaily.com.




2 komentar

Wah,proses menyapih selalu jadi drama ya,Mbak. Bulan depan Arin 2 tahun,tapi sekarang ini malah makin intens menyusunya. Sampe pegel2 bgt badan saya nih. Kebetulan ni anak doyan bgt susu UHT, tapi kok mimik ASI-nya tetep gencar ya? Hadeeh...

REPLY

Hihii.. iya Mbak, suka deg-degan kalo mau menyapih anak tuh ya, ada aja, cerita dan pengalamannya seorang ibu pun juga beda-beda. Btw, moga proses Mbak Sugi menyapih Arin dilancarkan ya.. Aminn.

REPLY

Coretan Eva . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates